Autumn In Smansa
Hai readers, Tsurayya kambek lagi neh xD!!!! Yeeaay !! (\m/)
Reder, masih ingat nggak janji saya sebelumnya yang bakalan
memposting tentang kelas XI IPA 4 ?
Berhubung ada tuga praktek TIK lagi, jadi postingan itu terpaksa dipending dulu,
gapapa yaa readers.
Nah, tugas TIK kali ini saya akan memposting sebuah cerpen.
Cerpen ini terinspirasi dari kisah yang mengharu biru dari adik kelas saya yang
sedikit saya ubah alur ceritanya. Jadi saya ingin mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada mereka yang telah menginspirasi saya. Tepuk tangaaaan..prokprokprok.
Oke, selamat membaca, ya
readers. Jangan lupa dikomen ya.
Autumn In Smansa
Pagi itu, matahari tak terlalu
terik menyinari bumi. Memberikan energi bagi tumbuhan untuk memproduksi
makanannya sendiri. Begitu pula dengan angin, yang dengan lembutnya bertiup. Membuat
siswa Smansa sedikit malas untuk bergerak. Saking malasnya, membuat Pak Nazar
harus menjemput siswanya ke atas agar segera turun untuk menghadiri rutinitas
sekolah, Upacara Bendera yang merupakan salah satu cara generasi penerus bangsa
untuk menghargai jasa pahlawan yang telah gugur.
Seperti biasa, dengan langkah
gontai aku turun dari lantai 3 gedung utama Smansa menuju lapangan. Aku merasa
tubuhku sangat lemas, sepertinya aku tidak sanggup untuk ikut upacara hari ini.
Namun salah satu teman akrabku, yang bernama Fadhel memanggilku, “ Hey, Zan. Jalan yang cepet dong. Pak Nazar
udah ngejar tuh dibelakang”
Yap, Fauzan. Begitulah teman-teman
memanggilku. Sebuah nama yang cukup sederhana namun memuat do’a dan harapan
yang tinggi dari orangtuaku. “ Halaah, jangan boong, Dhel.Pak Nazar udah dari
tadi kok ke bawah.” Kataku mengelak. Kemudian dia berlari begitu saja
meninggalkanku. Aku merasa heran mengapa harus terburu-buru ke lapangan ? Toh,
nanti di sana kita juga harus mengurus barisan yang membutuhkan waktu yang
tidak singkat.
Tiba-tiba, seperti petir menyambar
di siang bolong, Pak Nazar memukulku dengan rol ajaib yang selalu menemani
beliau dalam mendisiplinkan siswa Smansa. “ Kamu ini laki-laki tapi berjalan
seperti perempuan ! Cepat lari ke lapangan! Upacara akan segera dimulai. “ kata
Pak Nazar.
Sontak, akupun berlari dan mencoba
untuk menghindari pukulan mautnya Pak Nazar itu. Aku pun berlari sekuat tenaga,
walaupun rol Pak Nazar telah mencium kakiku.
Sesampainya di bawah, tepatnya di
antara gedung utama dan lapangan kulihat Fadhel telah berjalan bersama
teman-temanku yang lain. Sayup-sayup terdengar mereka membicarakan diriku yang
kurang beruntung melarikan diri dari Pak Nazar. Dengan maksud, untuk mengejar
mereka, akupun menambah kecepatan berlariku.
Namun, memang nasibku kurang
beruntung. Akupun tersungkur jatuh akibat dari batu kecil nan mungil yang
tergeletak tak berdaya di tengah jalan. Kulihat batu itu baik-baik untuk
memastikan bahwa batu itu bukanlah prajuritnya Pak Nazar.(?) Sepintas kulihat
batu itu seperti berwajah polos, namun tiba-tiba wajah polos itu berubah
menjadi senyuman evil yang cukup mengerikan.
Cukup soal batu. Akupun kembali
melihat kakiku. Untunglah ternyata kakiku tidak memberikan evil smile seperti
batu itu kepadaku ( batu lagi kan ). Walaupun sedikit perih, kupaksakan kaki
ini untuk mampu berdiri. Namun tak bisa.
Tiba-tiba sesosok malaikat datang
menghampiriku disaat kritisku(?). Dia membantuku berdiri dengan tangan
mungilnya yang lembut itu. Seketika itulah angin berhembus dengan lembut
menghampiri kami. Serta daun-daun berguguran menambahkan kesan romantis seperti
yang ada di dalam drama Korea.
Aku tertegun melihat kecantikannya yang disinari mentari pagi. Aku tak dapat berkata-kata, sampai ia membantuku membersihkan pakaian seragamku yang sedikit kotor itu dan berkata, “ Kamu nggak pa-pa kan, Zan?”
Aku tertegun melihat kecantikannya yang disinari mentari pagi. Aku tak dapat berkata-kata, sampai ia membantuku membersihkan pakaian seragamku yang sedikit kotor itu dan berkata, “ Kamu nggak pa-pa kan, Zan?”
Bagaikan hujan dimusim kemarau.
Suaranya yang merdu itu masuk dengan lembut ke telingaku dan menyadarkanku.
“ Eh,.iya, nggak pa-pa.” jawabku. Di
saat itulah aku sadar bahwa ternyata Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat
untukku, dan ternyata ia adalah teman sekelasku. Uli. Satu lagi nama unik yang
kudengar.
“ Kalau gitu, Uli duluan ya, Zan. “
katanya lagi sambil melambaikan tangannya padaku. Kuperhatikan setiap
langkahnya dengan detail tanpa berkedip saat meninggalkanku. Beberapa saat kemudian, rol Pak
Nazarpun kembali mendarat dengan mulusnya di kakiku.
“ Anak ini, dari atas tadi jalannya
udah kayak bencong, di bawah malah melamun. Cepat masuk ke barisan sana !” kata
Pak Nazar.
“ Iya ,pak.” Jawabku sambil
mengelus-elus kakiku.
Selesai upacara, akupun kembali
belajar seperti biasa. Istirahat pertama seperti biasa. Belajar lagi seperti
biasa. Shalat Zuhur berjamaah seperti biasa. Dan pulang sekolah juga seperti
biasa.
Tapi, ada hal yang tidak biasa dari
kehidupanku yang biasa ini(?). Hari-hariku selalu diisi oleh malaikat yang
membawa mentari cerah ke dalam hidupku yang mendung. Sebelumnya aku hanya
percaya bahwa Tuhan hanya mengirim Fadhel untukku. Namun kini Uli telah
menyembuhkanku dari kebutaan, bahwa banyak teman-teman yang juga peduli padaku.
Hanya aku yang kurang berusaha menjadi terbuka untuk mereka.
Setiap hari kujalani bersama Uli.
Setiap hari kukagumi Uli yang semakin lama semakin bersinar. Setiap hari
kujalani dengan nyaman disisinya. Dan setiap hari pula aku memantapkan
perasaanku kepadanya.
Dan tibalah hari dimana aku
mengutarakan isi hatiku kepada Uli. Darah dan nanah bercucuran ditubuhku,
badanku terasa dingin dan lemah tak bertenaga. Kakiku kram kesemutan. Bibir
pecah-pecah, hidung tersumbat, tenggorokan kering, dan pantatku gatal. *oops.
Begitulah keadaanku saat berhadapan dengan Uli. Kunyatakan perasaanku tepat di
tempat ia menolongku saat aku jatuh tersandung batu kecil yang tersenyum evil
kepadaku.
Tak lupa pula, angin yang berhembus
dengan lembut seperti waktu itu hadir dan menyemangatiku. Daun-daun yang
berguguranpun seperti tak mau kalah terhadap angina dalam menyemangatiku.
Akhirnya pertengkaran hebat antara angin dan daun-daun berguguran yang
sama-sama tak mau mengalah terjadi. Tetapi karena mereka adalah sesama ciptaan
Allah, maka pertengkaran mereka berakhir dengan jalan damai.
Lanjut ke Uli. Darah dan nanah bercucuran
masih ditubuhku, badanku masih terasa dingin dan lemah tak bertenaga. Kakiku
tetap kram kesemutan. Bibir juga masih pecah-pecah, hidungku tetap tersumbat,
tenggorokan masih kering, dan pantatku? Eh, tunggu dulu. Dimana pantatku ?
Kemana perginya ? Oh, Ternyata masih ada di belakangku dan ternyata..ternyata…TERNYATA
MASIH GATAL PEMIRSA!!! Oooo.. penonton pun kecewaaa.
Oke, stop tentang pantat. Kembali
ke U-LI. Dia pun mulai membuka mulutnya. Mengucapkan kata yang sudah sedari
tadi aku tunggu tunggu. “YA” jawabnya. Satu kata yang dapat mengubah hidupku
selamanya. Ternyata ia memiliki perasaan yang sama sepertiku.
TAMAT
Lanjutannya pikir aja sendiri.
Cieee..so sweet banget..emang mirip drama korea sih..PJ ya..fauzan dan uli..smoga sakinah mawaddah dan warrahmah..ups kayak nikahan nih.hehehhe..keren tsur (y)
BalasHapushahahaha makasih caa \m/. tunggu postingan selanjutnya yaa ca
HapusTsurr kerennn...
BalasHapusSo sweet gimana gitu ya, jadi bayangin kalo yg jadi fauzan itu siwon dan uli itu mah, kan cocok tu..postingan selanjutnya ttg cowok cool jaim sama cwek cerewet yg genre nya romantis kocak ya surr, koment blig aku juga ya...
hahahah makasih mah, ssiip udah tsur komen blog rahmah, tapi cerpen rahmah belum diposting. Nanti tunggu yaa postingan tsur selanjutnyaa \m/
Hapussetuju!! co cwiit beuud tsuur. *ek ikutan alay
BalasHapusdi tunggu karya lainnya ya tsurr. semangat!!!
sssip ran. Makasih yaaa \m/
HapusKasiian ulinya #eh hahahaha
BalasHapusBut like beudd surr
hahaha emang iya agak kasian sama uli. Tapi kalau udah cinta tu segalanya dibutakan ndak ?
HapusHehehe makasih uuy. Tunggu postingan selanjutnya yaa \m/